Kamis, 26 Februari 2015

Asbabun 

quran18Syahida.com – Asababun Nuzul surat An-Nuur ayat 61:
Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri. Makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara-saudaramu yang laki-laki, dirumah saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu memiliki kuncinya atau dirumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini), hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam kepada) dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatNya bagimu agar kamu memahaminya. (QS: 24 An-Nuur: 61)
Dalam suatu riwayat dikemukakan, pada waktu itu orang-orang biasa berkunjung bersama-sama orang buta, orang pincang, atau orang sakit ke rumah bapaknya, ke rumah saudaranya, ke rumah saudarinya, ke rumah bibinya (dari pihak bapak), ke rumah bibinya (dari pihak ibu). Orang-orang yang diajak itu merasa keberatan dengan berkata: “Mereka membawa kita ke rumah orang lain.” Maka turunlah ayat ini (QS: 24 An-Nuur: 61) sebagai kelonggaran bagi mereka. (bagi orang pincang, buta, atau sakit) untuk makan dirumah orang lain. [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazaq dari Ma’mar, dari Ibnu Abi Najih, yang bersumber dari Mujahid]
Dalam riwayat lain dikemukakan, ketika turun ayat, Ya ayyuhal ladzina amanu la ta’kulu amwalakum bainakum bil bathil…(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil…), sampai akhir ayat (QS: 4 An-Nisa’: 29), kaum Muslimin menghentikan makan di tempat orang lain, padahal mereka beranggapan bahwa menjamu makan itu adalah pemanfaatan harta yang paling utama. Maka turunlah ayat tersebut (QS: 24 An-Nuur: 61) memberikan kelonggaran makan untuk makan yang disediakan untuk mereka. [Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas]
Dalam riwayat lain dikemukakan, sejak sebelum Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus sebagai rasul, orang-orang Madinah tidak suka makan bersama-sama orang buta, orang sakit, atau orang pincang, karena orang buta tidak bisa melihat makanan yang enak, makanan orang sakit tidak cocok untuk makanan orang sehat, dan orang pincang tidak dapat berebut makanan. Ayat ini (QS: 24 An-Nuur: 61) turun untuk mengubah kebiasaan mereka. [Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Adl-Dlahhak]
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa orang-orang Madinah tidak suka makan bersama-sama dengan orang buta atau orang pincang. Ayat ini (QS: 24 An-Nuur: 61) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut untuk mengubah kebiasaan mereka. [Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari muqsim]
Dalam riwayat lain dikemukakan, ketika Al-Harits pergi mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berjihad, ia meminta Khalid bin Zaid untuk menjaga keluarganya, akan tetapi Khalid merasa keberatan untuk makan di rumah Al-Harits, karena ia sangat berhati-hati (takut melanggar hukum). Maka turunlah ayat ini (QS: 24 An-Nuur: 61) yang membenarkan memakan makanan yang disuguhkan kepadanya. [Diriwayatkan oleh Ats-Tsa’labi di dalam Tafsirnya yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas].
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa apabila kaum Muslimin berangkat mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam  berjihad mereka suka menyerahkan kunci-kunci rumahnya kepada orang-orang invalid (lemah atau cacat anggota badan), serta menghalalkan orang-orang tersebut untuk makan apa yang mereka inginkan. Mereka berkata: “Sebenarnya tidak halal bagi kita memakan makanan mereka, karena mereka memberikan izin tidak dengan kerelaan hati.” Maka Allah menurunkan Ayat tersebut diatas (QS: 24 An-Nuur: 61) yang memberikan kelonggaran kepada mereka untuk makan dirumah orang yang mengizinkannya dengan menyerahkan kunci-kunci rumahnya. [Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari ‘Aisyah].
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Az-Zuhri pernah ditanya tentang maksud kata-kata orang buta, orang pincang, dan orang sakit yang tersebut dalam ayat, Laisa ‘alal a’ma haraj…(tidak ada halangan bagi orang buta…) (QS: 24 An-Nuur: 61). Ia menjawab: “Aku telah menerima Hadits dari ‘Abdulullah bin ‘Abdillah yang mengatakan bahwa apabila kaum muslimn berangkat berjihad, mereka suka menyerahkan kunci-kunci rumahnya kepada orang-orang yang invalid untuk menjaga rumah-rumah mereka dan menghalalkan makan apa saja yang ada di rumah mereka. Akan tetapi, yang dititipi kunci merasa enggan, sekalipun hanya untuk masuk ke rumah itu.” (QS: 24 An-Nuur: 61) menegaskan bahwa mereka dibolehkan masuk ke dalam rumah itu dan makan setelah mengucapkan salam. [Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Az-Zuhri]
Dalam Riwayat lain dikemukakan bahwa ayat, …Laisa ‘alaikum junahun an ta’kulu jami’an au asytata… (…tidak ada halangan bagi kamu makan bersama mereka atau sendirian…) (QS: 24 An-Nuur: 61) turun berkenaan dengan segolongan bangsa Arab yang tisak dapat makan sendirian. Kadang-kadang mereka membawa-bawa makanan sampai mendapatkan orang yang mau menemaninya makan. Ayat ini (QS: 24 An-Nuur: 61) membenarkan mereka makan bersama-sama ataupun sendirian. [Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah].
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa apabila ada tamu yang datang ke rumah kaum Ansar, mereka tidak mau makan, kecuali bersama tamunya. Ayat ini (QS: 24 An-Nuur: 61) turun sebagai kelonggaran bagi mereka untuk makan bersama ataupun sendiri-sendiri. [Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah dan Abu Shalih]. [Syahida.com]
Sumber : Kitab Asbabun Nuzul (Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al Qur’an), K.HQ Shaleh, H.A.A. Dahlan, dkk
- See more at: http://www.syahida.com/2015/02/20/2059/asbabun-nuzul-sebab-turunnya-ayat-ayat-al-quran-surat-an-nuur-ayat-61/?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook#sthash.iN2CCxKj.dpuf

Sabtu, 21 Februari 2015

berkomunikasi dengan dasyat

Untuk mencapai tujuan organisasi yang Anda kelola, diperlukan kekompakan antaranggota tim. Komunikasi tim yang dahsyat mutlak diperlukan untuk mendukung kekompakan tersebut.
Mengembangkan tim pun memerlukan komunikasi. Apalagi kalau Anda adalah pimpinan tim tersebut, Anda pasti dituntut untuk mampu berkomunikasi dengan baik.
Dalam berkomunikasi, setidaknya ada 5 (lima) unsur penting yang harus Anda perhatikan:
1.    Sender (pengirim pesan)
2.    Message (pesan yang dikirim)
3.    Communication Channel (bagaimana pesan dikirimkan)
4.    Receiver (penerima pesan)
5.    Feedback (umpan balik)
Media komunikasi tidak hanya sekedar percakapan dengan orang lain,  akan tetapi bisa berupa isyarat melalui gerakan tubuh atau alat bantu lainnya.

Cara Komunikasi Yang dahsyat

cara-komunikasi-yang-dahsyatSehebat apapun kemampuan individu-individu anggota tim Anda, kalau tidak bisa berkomunikasi dengan baik maka tidak akan ada gunanya. Seperti kata mas William Shakespeare, ”No man is lord of anything, though in and of him there be much consisting, till he communicate his part to other”.
Seperti yang diceritakan mas B.S. Wibowo dalam bukunya yang berjudul Seri Management Terapan, Prinsip komunikasi ada lima yang disingkat REACH. Sebenarnya ini tidak hanya singkatan, tetapi juga memiliki arti secara harfiah. REACH = Mencapai, diartikan mencapai tujuan.

1. Respect (Hormat dan Menghargai)

Prinsip komunikasi yang pertama adalah respect. Sikap Anda yang hormat dan menghargai saat berkomunikasi dengan anggota tim lain. Samuel Johnson mengatakan bahwa “There will be no RESPECT without TRUST, and there is no trust without INTEGRITY”. Coba Anda terjemahkan sendiri. Apa! Tidak bisa? Buka kamus, kalau tidak punya ya lewat google translate aja kalau tidak bisa.

2. Empathy (Dapat Menempatkan Diri)

Empati bisa diartikan mampu menempatkan diri pada situasi kondisi yang tepat. Saat Anda berkomunikasi, Anda harus bisa menunjukkan empati kepada lawan bicara atau dengan anggota tim yang lain. Stephen Covey mengatakan bahwa “Seek first to understand then be understood to build the skills of emphatetic listening that inspires openness and trust”.

3. Audible (Dapat Didengar dan Dimengerti)

Prinsip yang ketiga, audible. Komunikasi yang Anda lakukan harus dapat didengar dan dimengerti. Bagaimana cara agar pesan Anda mudah dimengerti? Bicaralah dengan jelas, intonasi dan kualitas suara yang pas. Gunakan bahasa yang mudah difahami. Kalau perlu Anda gunakan ilustrasi atau alat peraga.

4. Clarity (Jelas Pesannya)

Ini hampir mirip dengan point nomor 3. Pesan yang Anda sampaikan saat berkomunikasi harus jelas, sehingga tidak menimbulkan pemahaman yang berbeda atau multitafsir.

5. Humble (Rendah Hati)

Ini yang paling penting, justru yang penting ini ditaruh dipaling belakang. Saat Anda berkomunikasi dengan anggota tim, Anda harus bersikap rendah hati, meskipun Anda adalah pimpinannya. Bersikaplah santun, sesekali disertai dengan senyuman. Rendah hati juga bisa Anda artikan salah satunya dengan tidak sombong dan menganggap diri penting ketika berbicara.
Sudahkah Anda sertakan kelima unsur tersebut dalam setiap Anda berkomunikasi dengan anggota tim lain? Kalau belum sekaranglah saatnya! Kalau sudah, tingkatkanlah. Dengan menerapkan cara komunikasi yang dahsyat tersebut, maka Anda pun bisa menjadi pemimpin yang baik.
Atau mungkin Anda punya pengalaman yang lain dalam hal komunikasi? Bisa Anda bagikan melalui kolom komentar dibawah!
Dan tentunya, kritik dan saran dari Anda tetap Saya nantikan!

Incoming search terms: